Lihat ku disini
Kau buat ku menangis
Tak ingin menyerah
Tapi tak menyerah
Mencoba lupakan
Tapi ku bertahan
Reff:
Kau terindah kan selalu terindah
Aku bisa apa 'tuk memilikimu
Kau terindah 'kan selalu terindah
Harus bagaimana ku mengungkapkannya
Kau pemilik hatiku
Mungkin lewat mimpi
Ku bisa 'tuk memberi
Ku ingin bahagia
Tapi tak bahagia
Ku ingin dicinta
Tapi tak dicinta
Back to Reff: 2x
Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku
Kau pemilik hatiku
Pertama mendengar lirik lagu di atas itu ketika gue pulang dari kawasan Blok M. Di dalam Bus Mayasari Bhakti jurusan Blok M - Pulo Gadung, saat itu gue duduk di bangku deret 2 baris 2. Awalnya ketika para musisi jalanan tersebut menyayikan lagu yang saat itu juga tidak gue perhatikan sama sekali karena gue sedang serius dan asik membaca Novel Kedai 1001 Mimpi karya Valiant Budi. Buku ini punya temen kantor gue si Rizkita, pertamanya gue ga begitu tertarik tapi karna ngeliat dia yang heboh cekikikan sendiri ngebacanya, soooooo, gue kepincut minjem buku nya itu deh. Dan ternyata emang buku itu super duper bikin gue gak bisa berenti ketawa, dimanapun gue baca, gue ketawa sendirian persetan dengan tatapan liar orang-orang sekitar.
Oke, balik lagi ke lirik diatas tadi. Pertama denger intro musik gue masih sama sekali ga tertarik buat nyimak lagu mereka, tetapi bukan berarti gue gak menghargai usaha mereka mencari uang yah, cuma saat itu gue lagi serius banget baca buku. Begitu gue denger bait perbait kebetulan yang waktu itu ketangkep di gendang telinga gue itu yang ini kalo gak salah "kau terindah, dan slalu terindah, aku bisa apa tuk memilikimu!!!" Jlebb!! Gue langsung bengong, dengerin bait per bait lagu yang lagi dinyanyiin sama mereka itu, lama-lama gue kok mendadak menggelinjang yah. Eeehhh uuupsss bukan! Maksudnya ada pergejolakan di dalam batin, sembelit hampir cepirit, mendadak sesek napas deh! Karena apa?? Yah gue gak mau ngebahas hal ini terus berulang-ulang sebenernya. Tapi kan gue cuma manusia biasa yang gue akuin, kalau ada hal sensitif tentang perasaan, pastilah galau! Secara gue juga kan manusia, tepatnya perempuan normal! Sering jatuh cinta, pernah ditinggal menikah (curhat).
Lamunan gue makin dalem. Menembus alam sadar gue. Bayang-bayang Drian tiba-tiba menari-nari di kepala. Entah kenapa gue saat itu ngerasa kayak ada di video klip itu lagu. Setiap bait per kata gue perhatiin dengan seksama. Seolah mencerna makna di balik semuanya. Sampai lagu habis pun, lamunan gue masih belum selesai juga. Gue tersadar ketika musisi jalanan tersebut nyodorin kantong berkas permen lusuh ke arah gue. Spontan gue tanpa noleh ngasih receh yang sedari tadi ada di genggaman. Memantapkan niat untuk nyari lagu itu dan siapa penyanyi sebenernya. Ternyata ooh Ternyataaaa, lagu baru nya Armada, judulnya pemilik hati! Kurang lebih menceritakan hal yang sama seperti apa yang gue rasain sekarang dan sebelum-sebelumnya.
Nah kan??? Jadi galau lagi gue. Benteng pertahanan untuk ga galau lagi tiba-tiba runtuh! Sering kali gue juga capek nasehatin hati gue sendiri, move on! Tapi nyatanya sulit. Mungkin belum mampu aja. Yaudahlah yaa,, daripada makin galau, udahan akh nulisnya.. Dadaaaahhhh
Rabu, 20 Juli 2011
Senin, 27 Juni 2011
Tak ada yang Lebih Baik dari Tuhan
Saya merasa, apa yang saya inginkan, dapat dengan mudah dan segera dikabulkan Tuhan. Tuhan tau betul apa yang saya butuhkan, keadaan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang saya inginkan. Dalam hal pekerjaan, memang saya sangat ingin sekali bekerja di dunia pertelevisian. Saya rasa, bekerja dengan menggunakan seragam pertelevisian dan bisa memberikan informasi kepada masyarakat luas adalah pekerjaan yang menarik sekali buat saya. Begitu abnyak stasiun televisi yang saya datangi. Namun belum ada satupun dari mereka yang mempeekerjakan saya.
Lalu saya berfikir di dalam hati. Saya ingin bekerja di dalam tim kreatif. Dimana didalamanya saya bekerja mengumpulkan ide-ide yang saya punya lalu kemudian saya share ke tim saya yang lain. Tidak berapa lama dari saya mengucapkan keinginan tersebut, saya mendapatkan pekerjaan itu. Bekerja sebagai seorang Copywriter sebuah Advertising Agency saya lakoni selama kurang lebih 4 bulan. Ternyata saya tidak cukup kreatif mengemban tugas tersebut. Saya putuskan untuk mengundurkan diri.
Kemudian saya berkeinginan menjadi seorang Reporter di media massa. Entah darimana datangnya keinginan tersebut. Dan seperti sulap. Tring! Tidak perlu lama-lama, Tuhan mengabulkannya. Saya mendapatkan pekerjaan yang sekarang saya geluti ini alhamdulillah tidak begitu sulit. Dan saya merasa sangat nyaman dengan profesi baru ini. Saya harap, ini akan menjadi profesi yang baik untuk saya. Amin.
Tidak hanya itu, banyak hal-hal kecil lain yang baru saya ucapkan di dalam hati, tiba-tiba dengan seketika Tuhan mengabulkannya. Ternayat, pendapat orang mengenai "omongan apapaun yang terucap dari lisan kita itu adalah doa" ternyata benar. Saya menjdai lebih hati-hati dalam berlisan. Saya tidak ingin ada kata0kata buruk yang keluar dan menjadi kenyataan. Saya merasa sangat jauh lebih baik sekarang ini setelah berkerudung. Alhamdulillah Tuhan mempermudah segala urusan yang akan saya lakukan. Dan saya berharap, Tuhan akan selalu melindungi saya pada setiap kegiatan yang akan saya lakukan... Amin
Lalu saya berfikir di dalam hati. Saya ingin bekerja di dalam tim kreatif. Dimana didalamanya saya bekerja mengumpulkan ide-ide yang saya punya lalu kemudian saya share ke tim saya yang lain. Tidak berapa lama dari saya mengucapkan keinginan tersebut, saya mendapatkan pekerjaan itu. Bekerja sebagai seorang Copywriter sebuah Advertising Agency saya lakoni selama kurang lebih 4 bulan. Ternyata saya tidak cukup kreatif mengemban tugas tersebut. Saya putuskan untuk mengundurkan diri.
Kemudian saya berkeinginan menjadi seorang Reporter di media massa. Entah darimana datangnya keinginan tersebut. Dan seperti sulap. Tring! Tidak perlu lama-lama, Tuhan mengabulkannya. Saya mendapatkan pekerjaan yang sekarang saya geluti ini alhamdulillah tidak begitu sulit. Dan saya merasa sangat nyaman dengan profesi baru ini. Saya harap, ini akan menjadi profesi yang baik untuk saya. Amin.
Tidak hanya itu, banyak hal-hal kecil lain yang baru saya ucapkan di dalam hati, tiba-tiba dengan seketika Tuhan mengabulkannya. Ternayat, pendapat orang mengenai "omongan apapaun yang terucap dari lisan kita itu adalah doa" ternyata benar. Saya menjdai lebih hati-hati dalam berlisan. Saya tidak ingin ada kata0kata buruk yang keluar dan menjadi kenyataan. Saya merasa sangat jauh lebih baik sekarang ini setelah berkerudung. Alhamdulillah Tuhan mempermudah segala urusan yang akan saya lakukan. Dan saya berharap, Tuhan akan selalu melindungi saya pada setiap kegiatan yang akan saya lakukan... Amin
Selasa, 14 Juni 2011
Hanya mie instan yang instan
Dalam perjalanan menuju sarinah tadi pagi. Saya biasa menggunakan jasa transportasi umum bernama Bus Trans Jakarta. Atau yang lebih dikenal masyarakat luas Busway. Kenapa masyarakat lebih menyebut angkutan tersebut Busway?? Padahal kalau diartikan, Busway itu berarti jalanan bus. Ya kan?? Begitulah masyarakat kita sekarang, hanya asal sebut tanpa memikirkan makna dari kata tersebut. Sudah tinggalkan saja masalah busway, yang saya mau ceritakan disini bukan sebutan Busway, tetapi di dalam bus tersebut ada yang menarik buat saya.
Ketika saya masuk, seperti ada yang aneh di dalam bus tersebut. Bukan dari bus nya, jumlah kursi yang berkurang atau keneknya yang ugal-ugalan. Tidak! Tetapi saya merasa pak supir yang sedang bekerja agak sedikit kaku dalam membawa bus tersebut. Setelah saya perhatikan, ternyata di sebelah pak supir ini, ada supir wanita yang sedang memberikan pengarahan. Dengan sedikit kaku, pak supir menjalankan bus Trans Jakarta dengan hati-hati. Saya tahu sekali, beliau tidak ingin mengecewakan penumpang yang ada.
Baru satu shelter, tiba-tiba si Bapak supir mengalami kegugupan. Kemudian kemudi di ambil alih oleh si supir wanita yang disebelahnya. Supir wanita sempat meminta maaf kepada penumpang atas ketidaknyamannan ini. Ternyata diketahui Bapak supir ini sedang belajar, sepertinya baru pertama kali beliau mengemudikan bus yang tidak bisa berhenti dimanapun tempatnya. Beliau butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya ini. Karena buat saya, segala jenis pekerjaan, pastilah kita butuh waktu untuk menyesuaikan diri, agar terbiasa nantinya.
Kenapa saya bisa berbicara seperti ini, karena saya juga merasakannya. Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang-orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Gugup dalam menghadapi pekerjaan baru. Bukan berarti kita tidak bisa menjelankan tugas, namun segala sesuatunya itu butuh proses. Dari awal lahir di dunia pun, perlu proses. Proses untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang instan di dunia ini! Mengapa seperti itu? Karena Tuhan ingin makhluk ciptaannya selalu berdoa dan berusaha. Yakinlah pada kemampuan yang kita miliki. Bahwa kita pasti bisa menjalankan pekerjaan kita dengan baik. Bahwa kita mampu mengerjakan segala pekerjaan yang telah dipercayakan orang untuk kita kerjakan. Kalau orang lain saja percaya kita mampu, apalagi diri kita? Mengapa kita tidak???
Hello My Bloggeees
Hello my Bloggeees,, udah lama banget yah gue gak update tulisan apa-apa disini. Bukan dikarenakan malas menulis, atau sedang tidak ada bahan tulisan, namun yaaa,, memang alasan klasik ini sangat mendominan sekali untuk gue gak buka blog selama beberapa bulan. Karena apa??? Karena seperti yang diketahui, blog ini sepenuhnya masih mengingatkan gue sama dia yang namanya selalu betebaran di blog ini. Iya gue tau, ga seharusnya gue seperti ini terus. Gue sayang dia, tetapi gue harus lebih sayang sama diri gue sendiri. Gue juga ga pengen lama-lama berada dalam fase patah hati. Toh, Tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang yang baik dan pantes buat gue. Nih, gue mau cerita sedikit akan kebesaran Tuhan. Tuhan tau gue sedih, Tuhan tau gue kesepian. Kesepian dalam arti ingin diperhatikan secara lebih dalam oleh orang diluar dari keluarga, ya sebut saja pasangan atau kekasih. Tuhan juga tau, mana laki-laki yang baik, dan mana laki-laki yang bukan berarti tidak baik, tetapi alangkah lebih baik jika gue gak bersama sama laki-laki yang salah terus menerus. Tuhan juga mengerti apa yang gue butuhkan, dan tau apa yang emnjadi keinginan gue bukanlah sesuatu yang gue butuhkan. Maka dari itu, Tuhan tiba-tiba mengirimkan atau mendatangkan lagi mantan gue jaman SMA dulu. Mantan yang paling lama gue pacarin, setelah 3 tahun berlalu dan hilang kontek tiba-tiba muncul gitu aja. Gak secara tiba-tiba jreeng nongol depan muka sih, cuma emang udah beberapa waktu lalu gue pernah ketemu dia sekali di kampusnya, darisitulah kita tukeran nomer hape lagi. Tapi peristiwa tersebut tidak lantas membuat gue sama dia deket kayak dulu. Hubungan yang pisah dikarenakan orang ketiga dan sepenuhnya kesalah gue ngebuat gue jadi agak takut untuk nyapa dia duluan. Ada rasa sungkan dan bayangan kesalah fatal yang gue lakuin muncul gitu aja. Neror gue setiap kali mau berhubungan sama dia. ALhasil gak jadi terus lah!
Tetapi Tuhan ternyata tau banget kesulitan yang gue hadapi. Dia mempermudah semuanya. Fikiran gue selama ini, dia masih marah sama kelakuan gue tiga tahun lalu. Tapi nyatanya enggak sama sekali. Alhamdulillah, gue bisa bernafas dengan lega. Hahahaha. Saat itu pula belum cukup membuat gue sama dia bisa akrab lagi. Emang, kita udah smsan, tapi itu jarang banget. Sms gue pun bisa diitung yang dibales sama dia. Nah karena dia yang naik turun gini, negbuat gue semakin susah ngelupain Drian a.k.a Rizki. Salah banget sih gue, tujuannya deketin dia cuma mau ngelupain Rizki. Makanya, Tuhan ngebuat gue jauh lagi deh.
Di saat gue udah bener-bener bertekat untuk perlahan mencoba melupakan Rizki, walau susah banget, disitulah tiba-tiba dia muncul lagi. Gak ada hujan, angin, badai, tornado, puting beliung, gempa bumi, tiba-tiba dia nelfon, rutin ngesms, dan anehnya lagi, dateng ke rumah gue loh! Agak setengah gak percaya awalnya dia bisa berubah drastis kayak gini. Gue pun gak begitu nanggepin yang terlalu berlebihan. Yang ada di pikiran gue sangatlah wajar jika ada mantan atau seseorang yang pernah ada di kehidupan kita tiba-tiba datang. Mungkin tidak ingin memutuskan tali silaturahmi. Setelah pertemuan itu, dia masih belum berubah. Secara tingkah laku, pola pikir sedikit membaik, karena dulu alasan yang ngebuat gue selingkuhin dia karena sifat dan pola pikir dia yang sangat kekanakkan. Gue mencari laki-laki dewasa dalam berfikir, eeh malah ditinggal nikah sekarang *sigh*
Oke lanjut, setelah ketemu, sms, gue sama dia malah intens banget sampe sekarang. Berasa kayak balik ke pacaran dulu. Mau apa-apa dan kemana secara spontan baik gue maupun dia pasti kasih laporan. Gue sempet aneh, tapi balik lagi gue bilang dalam hati kecil, yaudah jalanin deh. Toh yang tau baik buruknya Tuhan. Gak mungkin Tuhan mempertemukan gue sama dia lagi tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Gue si berharap, semoga ada perkembangan baik buat gue sama dia ke depan, sekalipun sampai detik ini gue tegaskan, gue sama dia belom BALIKAN!!! Gue cuma sedang berusaha mengikuti skenario yang Tuhan buat serta berusaha memainkan peran di dalamnya.
Senin, 11 April 2011
Jauh Tak Nampak, Dekat Tak Terlihat
Cerita yang akan saya tuliskan disini, adalah kejadian yang kemarin saya alami dalam satu harian. Begini ceritanya, kemarin adalah hari Minggu 10 April 2011. Saya bangun pagi-pagi sekali sekitar pukul empat subuh. Saya langsung bergegas mandi dan berwudhu, kemudian setelah adzan subuh berkumandang, saya segera bersiap untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Setelah selesai menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslimah, saya bersiap. Mengenakan training dan kaus lengan panjang serta mengenakan kerudung dan sepatu kets. Saya bersiap untuk lari pagi di taman Monas bersama dengan Om, Tante serta adik sepupu saya.
Sesampainya di Taman Monas, saya dan sepupu saya langsung saja berlari-lari kecil di taman tersebut. Dengan penuh suka cita, saya menikmati Minggu pagi yang indah dengan hati senang. Saya membebaskan pikiran saya ini dari semua kegalauan yang menyerang saya beberapa hari kemarin. Saya benar-benar menikmati hari sekali kemarin.
Setelah selesai berolahraga, saya dan keluarga memutuskan untuk berjalan di refleksi yang terbuat dari bebatuan yang berada di dalam taman pepohonan. Setelah itu saya dan sepupu saya beranjak menuju pohon berdahan rindang dan mudah sekali untuk dipanjat. Ini pertama kalinya saya memanjat pohon. Dan rasanya cukup menyenangkan sekali melakukan hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ada sensasi tersendiri ketika melakukannya.
Setelah puas memanjat pohon, saya beristirahat duduk di bangku taman bersama 4Om dan 4Tante saya yang sebelumnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Kemudian tidak berapa lama, tante mengajak saya untuk pergi mencari kue onde-onde. Sebelumnya, memang tante saya ingin membeli kue tersebut ketika baru saja sampai di parkiran 4Monas, namun saat ituOm saya belum memberikan ijin. Ketika sudah selesai berolahraga, dengan keinginan kuat untuk menikmati kue onde, 4Tante saya meminta ijin lagi kepada suaminya dan akhirnya diperbolehkan.
Lantas saya dan 4Tante saya bergegas pergi mencari kue tersebut. Kami berdua jalan melewati jalan yang tadi sempat kami lewati. Saya perhatikan setiap orang yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, namun tak satupun pedagang yang menjual kue onde. Saya memang sempat melihatnya, tetapi itu saat di parkiran, sesaat setelah turun dari 4Avanza. Tetapi selama di dalam taman 4Monas, saya belum melihat ada pedagang yang menjajakan kue onde.
Pencarian diteruskan sampai kami berada di lapangan tempat akami berolahraga tadi. Mata saya tak hentinya melihat dan memprehatikan dengan seksama para pedagang. Anmun ahsilnya tetap nihil. Tante saya pun seperti ingin menyerah. Karena memang kami tidak melihat atau menemukan satu padagang pun yang menjual kue onde. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke dalam taman pepohonan untuk menemui keluarga kami yang lain. Tetapi di tengah perjalanan, saat kembali berada di dalam taman pepohonan, kami melihat satu pedagang yang menjual kue onde. Akhirnya pencarian kami berbuah. Apa yang kami inginkan kini berada di depan mata kami. Dicari jauh-jauh, eeh ada nya disini. Padahal tadi kami sempat melewatinya, namun kami malah tidak melihat dan terus berjalan menjauhi taman pepohonan.
Terkadang, apa yang kita inginkan, kita sudah berusaha keras untuk mencarinya, berjalan jauh sekali namun kita semakin tidak menemukan apa yang kita inginkan tersebut. Dan ketika kita sudah menyerah, memutuskan untuk kembali, melupakan hal tersebut, pasrah dengan segala keputusan Tuhan, justru di tengah perjalanan kita pulang, kita justru mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut dengan mudah. Kita mendapatkan hal tersebut di perjalanan yang sempat kita lewati, namun tidak nampak sesuatu apapun disana. Memang mengherankan segala anugerah yang Tuhan beri untuk kita. Tuhan menginginkan kita untuk selalu menjadi makhluknya yang tidak mudah menyerah, berjuang dengan gigih demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tuhan sengaja menguji kita dengan tidak langsung memberikan hal yang kita inginkan tersebut, karena 4Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita demi mendapatkannya. Jika Tuhan sudah menghendaki, apapun yang kita inginkan pun niscaya akan diberikan. Namun semua itu harus diiringi oleh usaha serta doa yang tak pernah lepas.
Kemudian siang harinya, saya dan Tante saya, (adik dari ayah saya yang paling kecil) mengajak saya pergi ke Dufan. Bersama dengan teman SMA nya dulu. Saya senang sekali mendengarnya. Sudah lama sekali saya memang menginginkan pergi kesana. Tetapi masalah budget seringkali menjadi penghalang saya untuk bisa memompa adrenalin dengan memainkan wahana yang tersedia disana.
Jam sebelas siang, kami berangkat dengan menggunakan bus Trans Jakarta. Sesampainya disana sekitar jam 1. Saya langsung mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Dufan. Ternyata teman Tante saya dua orang. Dan keduanya adalah laki-laki. Mereka berdua cukup baik, menurut kacamata awal perkenalan saya dengan mereka. Alhamdulillah pula saya dengan mudah bisa langsung akrab dengan mereka.
Setelah masuk ke dalam area wahana, kami memutuskan untuk memainkan wahana pertama yaitu halilintar. Antri yang panjang saat itu tidak mengurungkan niat saya untuk membatalkan naik wahana ini. Saya sangat bersemangat sekali dibandingkan dengan mereka bertiga. Maklumlah, sudah lama saya tidak ke tempat bermain ini. Terakhir kali sekitar tahun 2009 lalu. Satu jam mengantri, namun permainan hanya berlangsung selama kurang lebih 3 menit. Huaaah!! Capek ngantri!!
Wahana kedua adalah Tornado. Jujur, saya takut sekali dengan wahana ini. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan menaikinya. Terlihat dari luar sangat ekstrem dan mampu membuat jantung berdegup sangat kencang. Mau mundur, bukan tipe saya seperti itu. Saya adalah tipikal orang yang jika sudah membuat keputusan, akan menanggung segala resiko yang akan terjadi. Seperti yang sebelumnya terjadi di halilintar, kami mengantri selama satu jam!!
Satu jam berlalu, tibalah giliran kami naik ke atas wahana. Saya sempat ragu, namun sudah tidak ada waktu untuk mundur. Saya beranikan diri saya untk naik ke atas wahana. Bismillah, gumam saya saat itu. Permainan berlangsung. Benar saja, rasanya gak karuan jantung ini. Tubuh diguncang ke atas ke bawah, di naik turunkan, benar-benar memacu adrenalin. Tetapi setelah permainan usai, saya justru tidak mendapatkan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, permainan ini membuat saya kapok. Justru tidak. Saya malah ketagihan untuk menaikinya sekali lagi. Ternyata seru sekali loh. Tidak se ekstrem yang dibayangkan awalnya.
Memang, apa yang kita bayangkan di awal, justru kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Terkadang kita salah membuat persepsi stas suatu hal atau permasalahan. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat dari luarnya saja, tanpa mencermati seperti apa hal tersebut sesungguhnya setelah dicoba untuk dijalani. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasa dari suatu hal kalau kita belum mencobanya. Untuk itu, biasakanlah diri kita mulai saat ini untuk tidak menyimpulkan sesuatu hal dari luarnya saja, kita harus melihat ke dalamnya juga, agar kita tidak salah mengambil kesimpulan untuk membuat suatu keputusan.
Sesampainya di Taman Monas, saya dan sepupu saya langsung saja berlari-lari kecil di taman tersebut. Dengan penuh suka cita, saya menikmati Minggu pagi yang indah dengan hati senang. Saya membebaskan pikiran saya ini dari semua kegalauan yang menyerang saya beberapa hari kemarin. Saya benar-benar menikmati hari sekali kemarin.
Setelah selesai berolahraga, saya dan keluarga memutuskan untuk berjalan di refleksi yang terbuat dari bebatuan yang berada di dalam taman pepohonan. Setelah itu saya dan sepupu saya beranjak menuju pohon berdahan rindang dan mudah sekali untuk dipanjat. Ini pertama kalinya saya memanjat pohon. Dan rasanya cukup menyenangkan sekali melakukan hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ada sensasi tersendiri ketika melakukannya.
Setelah puas memanjat pohon, saya beristirahat duduk di bangku taman bersama 4Om dan 4Tante saya yang sebelumnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Kemudian tidak berapa lama, tante mengajak saya untuk pergi mencari kue onde-onde. Sebelumnya, memang tante saya ingin membeli kue tersebut ketika baru saja sampai di parkiran 4Monas, namun saat ituOm saya belum memberikan ijin. Ketika sudah selesai berolahraga, dengan keinginan kuat untuk menikmati kue onde, 4Tante saya meminta ijin lagi kepada suaminya dan akhirnya diperbolehkan.
Lantas saya dan 4Tante saya bergegas pergi mencari kue tersebut. Kami berdua jalan melewati jalan yang tadi sempat kami lewati. Saya perhatikan setiap orang yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, namun tak satupun pedagang yang menjual kue onde. Saya memang sempat melihatnya, tetapi itu saat di parkiran, sesaat setelah turun dari 4Avanza. Tetapi selama di dalam taman 4Monas, saya belum melihat ada pedagang yang menjajakan kue onde.
Pencarian diteruskan sampai kami berada di lapangan tempat akami berolahraga tadi. Mata saya tak hentinya melihat dan memprehatikan dengan seksama para pedagang. Anmun ahsilnya tetap nihil. Tante saya pun seperti ingin menyerah. Karena memang kami tidak melihat atau menemukan satu padagang pun yang menjual kue onde. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke dalam taman pepohonan untuk menemui keluarga kami yang lain. Tetapi di tengah perjalanan, saat kembali berada di dalam taman pepohonan, kami melihat satu pedagang yang menjual kue onde. Akhirnya pencarian kami berbuah. Apa yang kami inginkan kini berada di depan mata kami. Dicari jauh-jauh, eeh ada nya disini. Padahal tadi kami sempat melewatinya, namun kami malah tidak melihat dan terus berjalan menjauhi taman pepohonan.
Terkadang, apa yang kita inginkan, kita sudah berusaha keras untuk mencarinya, berjalan jauh sekali namun kita semakin tidak menemukan apa yang kita inginkan tersebut. Dan ketika kita sudah menyerah, memutuskan untuk kembali, melupakan hal tersebut, pasrah dengan segala keputusan Tuhan, justru di tengah perjalanan kita pulang, kita justru mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut dengan mudah. Kita mendapatkan hal tersebut di perjalanan yang sempat kita lewati, namun tidak nampak sesuatu apapun disana. Memang mengherankan segala anugerah yang Tuhan beri untuk kita. Tuhan menginginkan kita untuk selalu menjadi makhluknya yang tidak mudah menyerah, berjuang dengan gigih demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tuhan sengaja menguji kita dengan tidak langsung memberikan hal yang kita inginkan tersebut, karena 4Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita demi mendapatkannya. Jika Tuhan sudah menghendaki, apapun yang kita inginkan pun niscaya akan diberikan. Namun semua itu harus diiringi oleh usaha serta doa yang tak pernah lepas.
Kemudian siang harinya, saya dan Tante saya, (adik dari ayah saya yang paling kecil) mengajak saya pergi ke Dufan. Bersama dengan teman SMA nya dulu. Saya senang sekali mendengarnya. Sudah lama sekali saya memang menginginkan pergi kesana. Tetapi masalah budget seringkali menjadi penghalang saya untuk bisa memompa adrenalin dengan memainkan wahana yang tersedia disana.
Jam sebelas siang, kami berangkat dengan menggunakan bus Trans Jakarta. Sesampainya disana sekitar jam 1. Saya langsung mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Dufan. Ternyata teman Tante saya dua orang. Dan keduanya adalah laki-laki. Mereka berdua cukup baik, menurut kacamata awal perkenalan saya dengan mereka. Alhamdulillah pula saya dengan mudah bisa langsung akrab dengan mereka.
Setelah masuk ke dalam area wahana, kami memutuskan untuk memainkan wahana pertama yaitu halilintar. Antri yang panjang saat itu tidak mengurungkan niat saya untuk membatalkan naik wahana ini. Saya sangat bersemangat sekali dibandingkan dengan mereka bertiga. Maklumlah, sudah lama saya tidak ke tempat bermain ini. Terakhir kali sekitar tahun 2009 lalu. Satu jam mengantri, namun permainan hanya berlangsung selama kurang lebih 3 menit. Huaaah!! Capek ngantri!!
Wahana kedua adalah Tornado. Jujur, saya takut sekali dengan wahana ini. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan menaikinya. Terlihat dari luar sangat ekstrem dan mampu membuat jantung berdegup sangat kencang. Mau mundur, bukan tipe saya seperti itu. Saya adalah tipikal orang yang jika sudah membuat keputusan, akan menanggung segala resiko yang akan terjadi. Seperti yang sebelumnya terjadi di halilintar, kami mengantri selama satu jam!!
Satu jam berlalu, tibalah giliran kami naik ke atas wahana. Saya sempat ragu, namun sudah tidak ada waktu untuk mundur. Saya beranikan diri saya untk naik ke atas wahana. Bismillah, gumam saya saat itu. Permainan berlangsung. Benar saja, rasanya gak karuan jantung ini. Tubuh diguncang ke atas ke bawah, di naik turunkan, benar-benar memacu adrenalin. Tetapi setelah permainan usai, saya justru tidak mendapatkan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, permainan ini membuat saya kapok. Justru tidak. Saya malah ketagihan untuk menaikinya sekali lagi. Ternyata seru sekali loh. Tidak se ekstrem yang dibayangkan awalnya.
Memang, apa yang kita bayangkan di awal, justru kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Terkadang kita salah membuat persepsi stas suatu hal atau permasalahan. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat dari luarnya saja, tanpa mencermati seperti apa hal tersebut sesungguhnya setelah dicoba untuk dijalani. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasa dari suatu hal kalau kita belum mencobanya. Untuk itu, biasakanlah diri kita mulai saat ini untuk tidak menyimpulkan sesuatu hal dari luarnya saja, kita harus melihat ke dalamnya juga, agar kita tidak salah mengambil kesimpulan untuk membuat suatu keputusan.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menanti
Aku tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali..
Dan aku telah memilih,,
Untuk menunggu orang yang aku cintai..
