Saya merasa, apa yang saya inginkan, dapat dengan mudah dan segera dikabulkan Tuhan. Tuhan tau betul apa yang saya butuhkan, keadaan yang sangat bertolak belakang dengan apa yang saya inginkan. Dalam hal pekerjaan, memang saya sangat ingin sekali bekerja di dunia pertelevisian. Saya rasa, bekerja dengan menggunakan seragam pertelevisian dan bisa memberikan informasi kepada masyarakat luas adalah pekerjaan yang menarik sekali buat saya. Begitu abnyak stasiun televisi yang saya datangi. Namun belum ada satupun dari mereka yang mempeekerjakan saya.
Lalu saya berfikir di dalam hati. Saya ingin bekerja di dalam tim kreatif. Dimana didalamanya saya bekerja mengumpulkan ide-ide yang saya punya lalu kemudian saya share ke tim saya yang lain. Tidak berapa lama dari saya mengucapkan keinginan tersebut, saya mendapatkan pekerjaan itu. Bekerja sebagai seorang Copywriter sebuah Advertising Agency saya lakoni selama kurang lebih 4 bulan. Ternyata saya tidak cukup kreatif mengemban tugas tersebut. Saya putuskan untuk mengundurkan diri.
Kemudian saya berkeinginan menjadi seorang Reporter di media massa. Entah darimana datangnya keinginan tersebut. Dan seperti sulap. Tring! Tidak perlu lama-lama, Tuhan mengabulkannya. Saya mendapatkan pekerjaan yang sekarang saya geluti ini alhamdulillah tidak begitu sulit. Dan saya merasa sangat nyaman dengan profesi baru ini. Saya harap, ini akan menjadi profesi yang baik untuk saya. Amin.
Tidak hanya itu, banyak hal-hal kecil lain yang baru saya ucapkan di dalam hati, tiba-tiba dengan seketika Tuhan mengabulkannya. Ternayat, pendapat orang mengenai "omongan apapaun yang terucap dari lisan kita itu adalah doa" ternyata benar. Saya menjdai lebih hati-hati dalam berlisan. Saya tidak ingin ada kata0kata buruk yang keluar dan menjadi kenyataan. Saya merasa sangat jauh lebih baik sekarang ini setelah berkerudung. Alhamdulillah Tuhan mempermudah segala urusan yang akan saya lakukan. Dan saya berharap, Tuhan akan selalu melindungi saya pada setiap kegiatan yang akan saya lakukan... Amin
Senin, 27 Juni 2011
Selasa, 14 Juni 2011
Hanya mie instan yang instan
Dalam perjalanan menuju sarinah tadi pagi. Saya biasa menggunakan jasa transportasi umum bernama Bus Trans Jakarta. Atau yang lebih dikenal masyarakat luas Busway. Kenapa masyarakat lebih menyebut angkutan tersebut Busway?? Padahal kalau diartikan, Busway itu berarti jalanan bus. Ya kan?? Begitulah masyarakat kita sekarang, hanya asal sebut tanpa memikirkan makna dari kata tersebut. Sudah tinggalkan saja masalah busway, yang saya mau ceritakan disini bukan sebutan Busway, tetapi di dalam bus tersebut ada yang menarik buat saya.
Ketika saya masuk, seperti ada yang aneh di dalam bus tersebut. Bukan dari bus nya, jumlah kursi yang berkurang atau keneknya yang ugal-ugalan. Tidak! Tetapi saya merasa pak supir yang sedang bekerja agak sedikit kaku dalam membawa bus tersebut. Setelah saya perhatikan, ternyata di sebelah pak supir ini, ada supir wanita yang sedang memberikan pengarahan. Dengan sedikit kaku, pak supir menjalankan bus Trans Jakarta dengan hati-hati. Saya tahu sekali, beliau tidak ingin mengecewakan penumpang yang ada.
Baru satu shelter, tiba-tiba si Bapak supir mengalami kegugupan. Kemudian kemudi di ambil alih oleh si supir wanita yang disebelahnya. Supir wanita sempat meminta maaf kepada penumpang atas ketidaknyamannan ini. Ternyata diketahui Bapak supir ini sedang belajar, sepertinya baru pertama kali beliau mengemudikan bus yang tidak bisa berhenti dimanapun tempatnya. Beliau butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya ini. Karena buat saya, segala jenis pekerjaan, pastilah kita butuh waktu untuk menyesuaikan diri, agar terbiasa nantinya.
Kenapa saya bisa berbicara seperti ini, karena saya juga merasakannya. Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang-orang yang mengalami hal serupa dengan saya. Gugup dalam menghadapi pekerjaan baru. Bukan berarti kita tidak bisa menjelankan tugas, namun segala sesuatunya itu butuh proses. Dari awal lahir di dunia pun, perlu proses. Proses untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang instan di dunia ini! Mengapa seperti itu? Karena Tuhan ingin makhluk ciptaannya selalu berdoa dan berusaha. Yakinlah pada kemampuan yang kita miliki. Bahwa kita pasti bisa menjalankan pekerjaan kita dengan baik. Bahwa kita mampu mengerjakan segala pekerjaan yang telah dipercayakan orang untuk kita kerjakan. Kalau orang lain saja percaya kita mampu, apalagi diri kita? Mengapa kita tidak???
Hello My Bloggeees
Hello my Bloggeees,, udah lama banget yah gue gak update tulisan apa-apa disini. Bukan dikarenakan malas menulis, atau sedang tidak ada bahan tulisan, namun yaaa,, memang alasan klasik ini sangat mendominan sekali untuk gue gak buka blog selama beberapa bulan. Karena apa??? Karena seperti yang diketahui, blog ini sepenuhnya masih mengingatkan gue sama dia yang namanya selalu betebaran di blog ini. Iya gue tau, ga seharusnya gue seperti ini terus. Gue sayang dia, tetapi gue harus lebih sayang sama diri gue sendiri. Gue juga ga pengen lama-lama berada dalam fase patah hati. Toh, Tuhan pasti sudah menyiapkan seseorang yang baik dan pantes buat gue. Nih, gue mau cerita sedikit akan kebesaran Tuhan. Tuhan tau gue sedih, Tuhan tau gue kesepian. Kesepian dalam arti ingin diperhatikan secara lebih dalam oleh orang diluar dari keluarga, ya sebut saja pasangan atau kekasih. Tuhan juga tau, mana laki-laki yang baik, dan mana laki-laki yang bukan berarti tidak baik, tetapi alangkah lebih baik jika gue gak bersama sama laki-laki yang salah terus menerus. Tuhan juga mengerti apa yang gue butuhkan, dan tau apa yang emnjadi keinginan gue bukanlah sesuatu yang gue butuhkan. Maka dari itu, Tuhan tiba-tiba mengirimkan atau mendatangkan lagi mantan gue jaman SMA dulu. Mantan yang paling lama gue pacarin, setelah 3 tahun berlalu dan hilang kontek tiba-tiba muncul gitu aja. Gak secara tiba-tiba jreeng nongol depan muka sih, cuma emang udah beberapa waktu lalu gue pernah ketemu dia sekali di kampusnya, darisitulah kita tukeran nomer hape lagi. Tapi peristiwa tersebut tidak lantas membuat gue sama dia deket kayak dulu. Hubungan yang pisah dikarenakan orang ketiga dan sepenuhnya kesalah gue ngebuat gue jadi agak takut untuk nyapa dia duluan. Ada rasa sungkan dan bayangan kesalah fatal yang gue lakuin muncul gitu aja. Neror gue setiap kali mau berhubungan sama dia. ALhasil gak jadi terus lah!
Tetapi Tuhan ternyata tau banget kesulitan yang gue hadapi. Dia mempermudah semuanya. Fikiran gue selama ini, dia masih marah sama kelakuan gue tiga tahun lalu. Tapi nyatanya enggak sama sekali. Alhamdulillah, gue bisa bernafas dengan lega. Hahahaha. Saat itu pula belum cukup membuat gue sama dia bisa akrab lagi. Emang, kita udah smsan, tapi itu jarang banget. Sms gue pun bisa diitung yang dibales sama dia. Nah karena dia yang naik turun gini, negbuat gue semakin susah ngelupain Drian a.k.a Rizki. Salah banget sih gue, tujuannya deketin dia cuma mau ngelupain Rizki. Makanya, Tuhan ngebuat gue jauh lagi deh.
Di saat gue udah bener-bener bertekat untuk perlahan mencoba melupakan Rizki, walau susah banget, disitulah tiba-tiba dia muncul lagi. Gak ada hujan, angin, badai, tornado, puting beliung, gempa bumi, tiba-tiba dia nelfon, rutin ngesms, dan anehnya lagi, dateng ke rumah gue loh! Agak setengah gak percaya awalnya dia bisa berubah drastis kayak gini. Gue pun gak begitu nanggepin yang terlalu berlebihan. Yang ada di pikiran gue sangatlah wajar jika ada mantan atau seseorang yang pernah ada di kehidupan kita tiba-tiba datang. Mungkin tidak ingin memutuskan tali silaturahmi. Setelah pertemuan itu, dia masih belum berubah. Secara tingkah laku, pola pikir sedikit membaik, karena dulu alasan yang ngebuat gue selingkuhin dia karena sifat dan pola pikir dia yang sangat kekanakkan. Gue mencari laki-laki dewasa dalam berfikir, eeh malah ditinggal nikah sekarang *sigh*
Oke lanjut, setelah ketemu, sms, gue sama dia malah intens banget sampe sekarang. Berasa kayak balik ke pacaran dulu. Mau apa-apa dan kemana secara spontan baik gue maupun dia pasti kasih laporan. Gue sempet aneh, tapi balik lagi gue bilang dalam hati kecil, yaudah jalanin deh. Toh yang tau baik buruknya Tuhan. Gak mungkin Tuhan mempertemukan gue sama dia lagi tanpa alasan yang jelas dan masuk akal. Gue si berharap, semoga ada perkembangan baik buat gue sama dia ke depan, sekalipun sampai detik ini gue tegaskan, gue sama dia belom BALIKAN!!! Gue cuma sedang berusaha mengikuti skenario yang Tuhan buat serta berusaha memainkan peran di dalamnya.
Senin, 11 April 2011
Jauh Tak Nampak, Dekat Tak Terlihat
Cerita yang akan saya tuliskan disini, adalah kejadian yang kemarin saya alami dalam satu harian. Begini ceritanya, kemarin adalah hari Minggu 10 April 2011. Saya bangun pagi-pagi sekali sekitar pukul empat subuh. Saya langsung bergegas mandi dan berwudhu, kemudian setelah adzan subuh berkumandang, saya segera bersiap untuk menunaikan ibadah shalat subuh. Setelah selesai menunaikan kewajiban saya sebagai seorang muslimah, saya bersiap. Mengenakan training dan kaus lengan panjang serta mengenakan kerudung dan sepatu kets. Saya bersiap untuk lari pagi di taman Monas bersama dengan Om, Tante serta adik sepupu saya.
Sesampainya di Taman Monas, saya dan sepupu saya langsung saja berlari-lari kecil di taman tersebut. Dengan penuh suka cita, saya menikmati Minggu pagi yang indah dengan hati senang. Saya membebaskan pikiran saya ini dari semua kegalauan yang menyerang saya beberapa hari kemarin. Saya benar-benar menikmati hari sekali kemarin.
Setelah selesai berolahraga, saya dan keluarga memutuskan untuk berjalan di refleksi yang terbuat dari bebatuan yang berada di dalam taman pepohonan. Setelah itu saya dan sepupu saya beranjak menuju pohon berdahan rindang dan mudah sekali untuk dipanjat. Ini pertama kalinya saya memanjat pohon. Dan rasanya cukup menyenangkan sekali melakukan hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ada sensasi tersendiri ketika melakukannya.
Setelah puas memanjat pohon, saya beristirahat duduk di bangku taman bersama 4Om dan 4Tante saya yang sebelumnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Kemudian tidak berapa lama, tante mengajak saya untuk pergi mencari kue onde-onde. Sebelumnya, memang tante saya ingin membeli kue tersebut ketika baru saja sampai di parkiran 4Monas, namun saat ituOm saya belum memberikan ijin. Ketika sudah selesai berolahraga, dengan keinginan kuat untuk menikmati kue onde, 4Tante saya meminta ijin lagi kepada suaminya dan akhirnya diperbolehkan.
Lantas saya dan 4Tante saya bergegas pergi mencari kue tersebut. Kami berdua jalan melewati jalan yang tadi sempat kami lewati. Saya perhatikan setiap orang yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, namun tak satupun pedagang yang menjual kue onde. Saya memang sempat melihatnya, tetapi itu saat di parkiran, sesaat setelah turun dari 4Avanza. Tetapi selama di dalam taman 4Monas, saya belum melihat ada pedagang yang menjajakan kue onde.
Pencarian diteruskan sampai kami berada di lapangan tempat akami berolahraga tadi. Mata saya tak hentinya melihat dan memprehatikan dengan seksama para pedagang. Anmun ahsilnya tetap nihil. Tante saya pun seperti ingin menyerah. Karena memang kami tidak melihat atau menemukan satu padagang pun yang menjual kue onde. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke dalam taman pepohonan untuk menemui keluarga kami yang lain. Tetapi di tengah perjalanan, saat kembali berada di dalam taman pepohonan, kami melihat satu pedagang yang menjual kue onde. Akhirnya pencarian kami berbuah. Apa yang kami inginkan kini berada di depan mata kami. Dicari jauh-jauh, eeh ada nya disini. Padahal tadi kami sempat melewatinya, namun kami malah tidak melihat dan terus berjalan menjauhi taman pepohonan.
Terkadang, apa yang kita inginkan, kita sudah berusaha keras untuk mencarinya, berjalan jauh sekali namun kita semakin tidak menemukan apa yang kita inginkan tersebut. Dan ketika kita sudah menyerah, memutuskan untuk kembali, melupakan hal tersebut, pasrah dengan segala keputusan Tuhan, justru di tengah perjalanan kita pulang, kita justru mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut dengan mudah. Kita mendapatkan hal tersebut di perjalanan yang sempat kita lewati, namun tidak nampak sesuatu apapun disana. Memang mengherankan segala anugerah yang Tuhan beri untuk kita. Tuhan menginginkan kita untuk selalu menjadi makhluknya yang tidak mudah menyerah, berjuang dengan gigih demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tuhan sengaja menguji kita dengan tidak langsung memberikan hal yang kita inginkan tersebut, karena 4Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita demi mendapatkannya. Jika Tuhan sudah menghendaki, apapun yang kita inginkan pun niscaya akan diberikan. Namun semua itu harus diiringi oleh usaha serta doa yang tak pernah lepas.
Kemudian siang harinya, saya dan Tante saya, (adik dari ayah saya yang paling kecil) mengajak saya pergi ke Dufan. Bersama dengan teman SMA nya dulu. Saya senang sekali mendengarnya. Sudah lama sekali saya memang menginginkan pergi kesana. Tetapi masalah budget seringkali menjadi penghalang saya untuk bisa memompa adrenalin dengan memainkan wahana yang tersedia disana.
Jam sebelas siang, kami berangkat dengan menggunakan bus Trans Jakarta. Sesampainya disana sekitar jam 1. Saya langsung mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Dufan. Ternyata teman Tante saya dua orang. Dan keduanya adalah laki-laki. Mereka berdua cukup baik, menurut kacamata awal perkenalan saya dengan mereka. Alhamdulillah pula saya dengan mudah bisa langsung akrab dengan mereka.
Setelah masuk ke dalam area wahana, kami memutuskan untuk memainkan wahana pertama yaitu halilintar. Antri yang panjang saat itu tidak mengurungkan niat saya untuk membatalkan naik wahana ini. Saya sangat bersemangat sekali dibandingkan dengan mereka bertiga. Maklumlah, sudah lama saya tidak ke tempat bermain ini. Terakhir kali sekitar tahun 2009 lalu. Satu jam mengantri, namun permainan hanya berlangsung selama kurang lebih 3 menit. Huaaah!! Capek ngantri!!
Wahana kedua adalah Tornado. Jujur, saya takut sekali dengan wahana ini. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan menaikinya. Terlihat dari luar sangat ekstrem dan mampu membuat jantung berdegup sangat kencang. Mau mundur, bukan tipe saya seperti itu. Saya adalah tipikal orang yang jika sudah membuat keputusan, akan menanggung segala resiko yang akan terjadi. Seperti yang sebelumnya terjadi di halilintar, kami mengantri selama satu jam!!
Satu jam berlalu, tibalah giliran kami naik ke atas wahana. Saya sempat ragu, namun sudah tidak ada waktu untuk mundur. Saya beranikan diri saya untk naik ke atas wahana. Bismillah, gumam saya saat itu. Permainan berlangsung. Benar saja, rasanya gak karuan jantung ini. Tubuh diguncang ke atas ke bawah, di naik turunkan, benar-benar memacu adrenalin. Tetapi setelah permainan usai, saya justru tidak mendapatkan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, permainan ini membuat saya kapok. Justru tidak. Saya malah ketagihan untuk menaikinya sekali lagi. Ternyata seru sekali loh. Tidak se ekstrem yang dibayangkan awalnya.
Memang, apa yang kita bayangkan di awal, justru kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Terkadang kita salah membuat persepsi stas suatu hal atau permasalahan. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat dari luarnya saja, tanpa mencermati seperti apa hal tersebut sesungguhnya setelah dicoba untuk dijalani. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasa dari suatu hal kalau kita belum mencobanya. Untuk itu, biasakanlah diri kita mulai saat ini untuk tidak menyimpulkan sesuatu hal dari luarnya saja, kita harus melihat ke dalamnya juga, agar kita tidak salah mengambil kesimpulan untuk membuat suatu keputusan.
Sesampainya di Taman Monas, saya dan sepupu saya langsung saja berlari-lari kecil di taman tersebut. Dengan penuh suka cita, saya menikmati Minggu pagi yang indah dengan hati senang. Saya membebaskan pikiran saya ini dari semua kegalauan yang menyerang saya beberapa hari kemarin. Saya benar-benar menikmati hari sekali kemarin.
Setelah selesai berolahraga, saya dan keluarga memutuskan untuk berjalan di refleksi yang terbuat dari bebatuan yang berada di dalam taman pepohonan. Setelah itu saya dan sepupu saya beranjak menuju pohon berdahan rindang dan mudah sekali untuk dipanjat. Ini pertama kalinya saya memanjat pohon. Dan rasanya cukup menyenangkan sekali melakukan hal yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Ada sensasi tersendiri ketika melakukannya.
Setelah puas memanjat pohon, saya beristirahat duduk di bangku taman bersama 4Om dan 4Tante saya yang sebelumnya sudah berada di sana terlebih dahulu. Kemudian tidak berapa lama, tante mengajak saya untuk pergi mencari kue onde-onde. Sebelumnya, memang tante saya ingin membeli kue tersebut ketika baru saja sampai di parkiran 4Monas, namun saat ituOm saya belum memberikan ijin. Ketika sudah selesai berolahraga, dengan keinginan kuat untuk menikmati kue onde, 4Tante saya meminta ijin lagi kepada suaminya dan akhirnya diperbolehkan.
Lantas saya dan 4Tante saya bergegas pergi mencari kue tersebut. Kami berdua jalan melewati jalan yang tadi sempat kami lewati. Saya perhatikan setiap orang yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, namun tak satupun pedagang yang menjual kue onde. Saya memang sempat melihatnya, tetapi itu saat di parkiran, sesaat setelah turun dari 4Avanza. Tetapi selama di dalam taman 4Monas, saya belum melihat ada pedagang yang menjajakan kue onde.
Pencarian diteruskan sampai kami berada di lapangan tempat akami berolahraga tadi. Mata saya tak hentinya melihat dan memprehatikan dengan seksama para pedagang. Anmun ahsilnya tetap nihil. Tante saya pun seperti ingin menyerah. Karena memang kami tidak melihat atau menemukan satu padagang pun yang menjual kue onde. Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke dalam taman pepohonan untuk menemui keluarga kami yang lain. Tetapi di tengah perjalanan, saat kembali berada di dalam taman pepohonan, kami melihat satu pedagang yang menjual kue onde. Akhirnya pencarian kami berbuah. Apa yang kami inginkan kini berada di depan mata kami. Dicari jauh-jauh, eeh ada nya disini. Padahal tadi kami sempat melewatinya, namun kami malah tidak melihat dan terus berjalan menjauhi taman pepohonan.
Terkadang, apa yang kita inginkan, kita sudah berusaha keras untuk mencarinya, berjalan jauh sekali namun kita semakin tidak menemukan apa yang kita inginkan tersebut. Dan ketika kita sudah menyerah, memutuskan untuk kembali, melupakan hal tersebut, pasrah dengan segala keputusan Tuhan, justru di tengah perjalanan kita pulang, kita justru mendapatkan apa yang kita inginkan tersebut dengan mudah. Kita mendapatkan hal tersebut di perjalanan yang sempat kita lewati, namun tidak nampak sesuatu apapun disana. Memang mengherankan segala anugerah yang Tuhan beri untuk kita. Tuhan menginginkan kita untuk selalu menjadi makhluknya yang tidak mudah menyerah, berjuang dengan gigih demi mendapatkan apa yang diinginkan. Tuhan sengaja menguji kita dengan tidak langsung memberikan hal yang kita inginkan tersebut, karena 4Tuhan ingin melihat sampai sejauh mana perjuangan dan pengorbanan kita demi mendapatkannya. Jika Tuhan sudah menghendaki, apapun yang kita inginkan pun niscaya akan diberikan. Namun semua itu harus diiringi oleh usaha serta doa yang tak pernah lepas.
Kemudian siang harinya, saya dan Tante saya, (adik dari ayah saya yang paling kecil) mengajak saya pergi ke Dufan. Bersama dengan teman SMA nya dulu. Saya senang sekali mendengarnya. Sudah lama sekali saya memang menginginkan pergi kesana. Tetapi masalah budget seringkali menjadi penghalang saya untuk bisa memompa adrenalin dengan memainkan wahana yang tersedia disana.
Jam sebelas siang, kami berangkat dengan menggunakan bus Trans Jakarta. Sesampainya disana sekitar jam 1. Saya langsung mencari mushola untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju Dufan. Ternyata teman Tante saya dua orang. Dan keduanya adalah laki-laki. Mereka berdua cukup baik, menurut kacamata awal perkenalan saya dengan mereka. Alhamdulillah pula saya dengan mudah bisa langsung akrab dengan mereka.
Setelah masuk ke dalam area wahana, kami memutuskan untuk memainkan wahana pertama yaitu halilintar. Antri yang panjang saat itu tidak mengurungkan niat saya untuk membatalkan naik wahana ini. Saya sangat bersemangat sekali dibandingkan dengan mereka bertiga. Maklumlah, sudah lama saya tidak ke tempat bermain ini. Terakhir kali sekitar tahun 2009 lalu. Satu jam mengantri, namun permainan hanya berlangsung selama kurang lebih 3 menit. Huaaah!! Capek ngantri!!
Wahana kedua adalah Tornado. Jujur, saya takut sekali dengan wahana ini. Karena ini adalah pertama kalinya saya akan menaikinya. Terlihat dari luar sangat ekstrem dan mampu membuat jantung berdegup sangat kencang. Mau mundur, bukan tipe saya seperti itu. Saya adalah tipikal orang yang jika sudah membuat keputusan, akan menanggung segala resiko yang akan terjadi. Seperti yang sebelumnya terjadi di halilintar, kami mengantri selama satu jam!!
Satu jam berlalu, tibalah giliran kami naik ke atas wahana. Saya sempat ragu, namun sudah tidak ada waktu untuk mundur. Saya beranikan diri saya untk naik ke atas wahana. Bismillah, gumam saya saat itu. Permainan berlangsung. Benar saja, rasanya gak karuan jantung ini. Tubuh diguncang ke atas ke bawah, di naik turunkan, benar-benar memacu adrenalin. Tetapi setelah permainan usai, saya justru tidak mendapatkan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya pikir, permainan ini membuat saya kapok. Justru tidak. Saya malah ketagihan untuk menaikinya sekali lagi. Ternyata seru sekali loh. Tidak se ekstrem yang dibayangkan awalnya.
Memang, apa yang kita bayangkan di awal, justru kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Terkadang kita salah membuat persepsi stas suatu hal atau permasalahan. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang terlihat dari luarnya saja, tanpa mencermati seperti apa hal tersebut sesungguhnya setelah dicoba untuk dijalani. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasa dari suatu hal kalau kita belum mencobanya. Untuk itu, biasakanlah diri kita mulai saat ini untuk tidak menyimpulkan sesuatu hal dari luarnya saja, kita harus melihat ke dalamnya juga, agar kita tidak salah mengambil kesimpulan untuk membuat suatu keputusan.
Senin, 28 Maret 2011
My memories with him on 5 March 2011
Bukan bermaksud untuk kembali membahas masalah atau hal yang sama. Namun, disini gue cuma pengen menjadikan satu hari ini menjadi kenangan. Antara gue dan Drian. Moment-moment ini terjadi pada tanggal 5 Maret 2011. Dimana saat itu Drian berulang tahun ke 22. Gue yang dengan dibantu ke empat teman-temannya dateng pas jam 12 teng ke rumahnya dengan membawa kue dan beberapa kado. Inilah moment-moment penting dalam hidup gue yang terjadi hanya satu kali seumur hidup, mungkin!! Gue mengabadikannya melalui foto-foto yang akan gue pajang disini, sebagai bukti kalo gue pernah melakukan hal untuk orang yang gue sayang.
Ini adalah kue berbentuk Kamera Nikon D 300s yang berhasil gue dapetin dengan waktu pemesanan selama kurang lebih satu bulan. Gue sibuk nelpon kesana kemari nyari tempat kue yang bisa bikin kue 3D kayak gambar diatas. dan bukan perkara mudah loh!! Jarang banget ada toko kue yang mau buatin kue dengan budget sesuai kita. Dengan tekat dan semangat, akhirnya jadinya 3D seperti yang terlihat di atas. Seluruh bagian luar kue dilapisi coklat asli. Dan rasanya pun nyummiii banget. Apalagi yang warna biru sebagai alasnya, coklat yang enak banget. Sampai-sampai Awan doyan banget makan alas kue yang berwarna biru ini. Kenapa Nikon D300s?? Karna kata Awan,, Drian lagi pengen kamera ini. Yaa nih gue kasih, tapi dalam bentuk kue aja yah Dri.. hehhehhee. Daaaannnnn,,,,, Pasti lo semua heran ngeliat lilinnya. Udah kecil-kecil, mletot-mletot, dan kenapa lima?? Bukan 22 sama kayak ulang taunnya?? jadi gini loh, itu lilin dapet dari kue nya langsung. Gue sampe Bogor jam 10 malem. Udah ga sempet deh beli lilin segala. Beli terompet aja maksa. Akhirnya tu terompet kan ga bunyi. Pajangan doank deh. Hahahaha kocak banget. Akhirnya Gue punya ide, kalo ada yang nanya kenapa lilinnya lima, gue jawab aja, sesuai sama tanggal lahirnya kan 5 Maret. Hehehehhee. Walau terdengar agak maksa, tapi setidaknya alesan gue pas kan??
Ini pas baru sampe rumah Drian. Sebelum kita semua manggil Drian keluar. Halaman luar rumah orang yang kita pake buat poto-poto. Hehehhe. Ini ngomong aja bisik-bisik, karena pas kita nyampe tengah malem gini, Drian nya masih melek dong! Dia belom molor, yaudah jadi aja kita bisik-bisik, takut ketauan sama orangnya.
Inilah saat-saat yang mendebarkan. pas orangnya keluar, sumpah demi apapun gue nervous, keringet dingin, padahal cuacanya dingiiiinnn banget, udah gitu kan banyak angin semilir-semilir gitu. Deg-deg an parah banget deh pokoknya. Masalahnya ini kan pertama kali gue melakukan semua hal atas nama cinta. Nyatronin rumah gebetan (istilahnya si gitu) tepat jam 12 malem teng!!! Wooooww,, apa yang lo rasain jika jadi gue coba??? Eehh tau ga sihh, itu kan lilinnya yang nyala cuma tiga dari lima lilin. Hahhaaa,, gara-gara angin niupnya kekencengan. Jadi deh, bukan ditiup Drian, tapi malah ditiup angin. Liat kan?? Ekspresi canggung gue diatas. Maklumlah, setelah beberapa lama ga ketemu langsung. Ketemu-temu lagi dalam moment kayak begini. terakhir ketemu Drian pas wisuda 21 Juli 2010, dan baru ketemu lagi 5 Maret 2011. Fantastis bukan??
Nah ini tiup lilin kedua. Karena tadi pas di depan gerbang kan lilinnya ga nyala semua. Nah yang disini ini semua lilin menyala. Juga tak ada gangguan dari si angin. Maksa banget yah muka gue. Padahal itu muka nahan grogi. Gimana engga. Yang di depan gue itulah Drian. Orang yang sampai saat gue nulis tulisan ini masih betah ada di hati gue. Sayang banget sama Drian ya Allah.
Suka banget liat ekspresi Drian disini. Ketawanya natural banget. Lepas pas pas passss! Jarang gue bisa liat secara langsung ketawanya dia yang beginian. Karena, setiap ada gue, atau kita lagi ketemu secara ga sengaja dulu sebelum wisuda setelah gue menyatakan cinta, gue gak pernah liat dia ketawa selepas ini. Tampangnya selalu dingin dan jutek buat gue. Sedih deh. Tapi pas liat foto diatas, gue seneng banget liat dia ketawa selepas itu. Eeeehhh tunggu deh, ini perasaan gue aja atauuu emang,, lengan Drian kok keker banget yah sekarang?? kayaknya dulu ga segede itu deh (coba liat gambar diatas lagi) keker abiiiisss,, pekerjaan sebagai seorang fotografer berat banget yah,, sampe tangannya kayak biasa megang alat berat loh. Padahal kamera ga ber ton ton kan beratnya??? Hihihiiii (becanda)
Kalo yang ini dia begaya motret gitu sama kue yang gue kasih. Tapi kenapa itu ada gue nya yah?? Jadi ga kece kan?? Udah gitu gue nya sadar kamera pula. Hahahahaa,, ketauan banget banci kamera nya.
Inilah saat seserahan terjadi. Hahhahaa, gue menyerahkan kado-kado yang udah dengan penuh pengorbanan bawa nya dari Jakarta ke Bogor. Sampe-sampe ada sedikit kertas kadonya yang sobek. Tapi untung aja bisa diakalin pake selotip. Hehehehe. Sii Drian mah tetep lucu weh yeuh mau bergaya apa juga. Liat deh ekspresinya, lucu kan?? Gue suka semua yang ada di diri dia. Hahahaha
Buka kadonya,, buka kadonya,, buka kadonya sekarang juga. Hahahhaaa. Akhirnya kado dibuka juga. Ada dua sih kado yang gue kasihin, cuma yang boleh gue buka yang gede aja. Kado yang kecil dikotakin jangan dibuka. Gue gak mau. Karena apa?? Isinya itu Magic mug. Yang kalo diisi aer panas desainnya keluar deh. Nah desainnya itu yang agak-agak gimana gitu. Malu aja kalo sampe keliatan anak-anak. Ada puisi nya juga, hahahaa,, gombal deh. Ga gombal juga sih, itu semua kata-kata yang keluar dari hati. Nah pasti Awan ngeledekin kalo sampe nemu atau baca memo nya itu. Makanya yang gue ijinin dibuka kado kanvas nya aja.
Ekspresi Drian saat itu seneng banget. Sepenglihatan gue yah. Dia ngerasa takjub liat kado kanvas dari gue itu. Katanya kreatif, unik dan menarik. Ya iyalah, itu kan buatnya butuh perjuangan dan pengorbanan panjang. Banyak suka duka nya ngumpulin 22 desain ucapan ulang tahun sebelum akhirnya di cetak repro ke kanvas. Alhamdulillah, ngeliat ekspresi bahagia Drian saat itu udah cukup ngebayar semua suka duka yang gue alamin saat persiapan semua kejutan.
Betapa lucunya kan Drian. Hahahaa, setelah sekian lama menantikan moment-moment seperti ini, akhirnya baru kesampean juga lima Maret 2011. Gue ngerasa seneng banget. Udah berhasil melakukan hal yang selama ini gak pernah terlintas di kepala gue. Liat kan?? Ekspresi Drian juga sepertinya menikmati satu malam itu. Dia ga jutek-jutekan loh ke gue. Yaa walopun masih agak dingin dan canggung sii. Maklum lah, namanya juga abis dikasih surprise, hehehe.
Lihatlah,, betapa pongonya muka gue di atas. Itu semua ekspresi kecanggungan gue di depan Drian. Haduuuhhh,, deg-degan bercampur seneng pengen lompat-lompat jadi satu. Liat kan foto terakhir diatas, gue gemeteran banget pas nyuapin kue ke mulut Drian. Noh muka gue enggak seenggak engganya banget kan!! ekspresi takjub setengah gak percaya, ekspresi takut-takut najis,,hahhahhaaa... Ckckck,, tapi yaudahlah,, setidaknya gue pernah nyuapin dia. Walau ini akan menjadi pertama dan terakhir kali gue nyuapin dia.
Dan inilah kru yang telah membantu gue dalam acara kejutan ulang tahun Drian ke 22! Yang paling atas namanya Awan, tepat dibawahnya ada Devi yang notabene pacarnya Awan, trus sebelah kiri Devi ada Aul, sebelah kanan Devi ada Evi dan sebelah kanan Evi ada gue sendiri. Makasih banyak ya semuanya, udah mau gue gangguin waktunya buat gerebeg rumah si Drian tengah malem. Tenang, ini yang pertama sekaligus terakhir kok. Heheheheheee... Gue gak akan pernah lupa sama jasa kalian ini. Dan akan selalu terkenang di hati.
Selanjutnya, gue mau masukin juga foto-foto ulang tahun Drian malam harinya. Sekitar jam delapan malem, dia ngadain tiup lilin ala dia. Ada temen-temen kuliahnya juga, yang otomatis ga gue kenal. Karena gue gak pernah sekelas sama mereka jaman kuliah dulu. Jadilah gue berasa orang asing disana. Gue pengen balik ke Jakarta, cuma Mamahnya ngelarang dan minta gue kesana sebentar aja. Ya akhirnya gue menghargai ajakan Mamahnya tersebut. Gue dateng, walaupun gue juga tau, akan ada Reina disana. Di foto-foto yang akan gue masukin disini pun tak pernah luput dari Reina. Yasudahlah,,,
Ini pas nyanyi jingle selamat ulang tahun, tuh liat deh gue, teprak teprok ga niat. Hahahahhaaa. Rame kan?? Ada Papahnya, Mamahnya, Teh Indah, Trus ade perempuannya yang paling kecil, Dini kalo ga salah namanya. Dan beserta anak Komunikasi 44 Institut Pertanian Bogor lainnya.
Tiup lilin ala Drian. Katanya siih gitu. Semangat banget deh Dri niupnya. Hehehehee
Potong kuenya,, potong kuenyaa,, potong kuenya sekarang jugaaaa... (nyanyiii)
Suapan pertama buat sii Mamah. Kalo tengah malem suapan pertamanya buat gue, sekarang buat sii Mamah. Semoga aja terus gue dan sii mamah yang dapet suapan pertama di setiap kali dia Ulang Tahun. Amiiinn ya Allah... (uupss RALAT: bukan suapan pertama yang dikasih Drian ke gue, tapi kue pertama, dan yang nyuapin kue itu gue ke dia, bukan dia ke gue. Gue gak mau terjadi salah paham disini)
Nah suapan kedua nya buat sii Papah. Om Dindin,, hehhehee. Anak manis yah sii Drian ini.. Makanya gue cinta banget sama dia. Hahaaa
Yak,, inilah sesi pemotretan setelah acara tiup lilin dan nyanyii bareng serta suap-suapan kue beresss..
Muke gue oke banget deh,, apa karena kamera nya yang oke yah?? gak kalah cantik kan sama Reina?? hahahhahaa (becanda deng)
Bisa dilihat kan??? Betapa akrabnya Drian dengan Reina!! Dan lihat lah gue??? Sendiri menyepiii terasingkan,, hahhahahaaa... Agak iri sii,, tapi yasudahlah,, mau gimana?? Toh memang Reina yang lebih dulu kenal Drian dibanding gue.
Sii Aul curaaannngg!!! Yang laen pada pasang muka serius, nah dia malah nyengir kudaaa pamerin gigi. Gue juga sih curang,, mesem-mesem dikit. Hahahahhaaa
Foto terakhiir ini pasti kerjaan yang ulang taun deh. Jelek banget kan muka mukanya! Cuma Reina yang sadar kamera. Hahahahhaaaa. Dengan berakhirnya foto di atas, maka berkahir pula cerita mengenai kejutan Drian sebulan yang lalu. Ga nyangka ya, udah sebulan berlalu, gue masih aja ngerasa baru kemaren gue ke Bogor datengin rumahnya. Waktu cepet banget berputar. Ngeliat foto-foto diatas menghibur gue banget. Karena sekarang hubungan gue sama Drian meregang. Lagi dan lagi, dan untuk yang kesekian kali!!
Ini adalah kue berbentuk Kamera Nikon D 300s yang berhasil gue dapetin dengan waktu pemesanan selama kurang lebih satu bulan. Gue sibuk nelpon kesana kemari nyari tempat kue yang bisa bikin kue 3D kayak gambar diatas. dan bukan perkara mudah loh!! Jarang banget ada toko kue yang mau buatin kue dengan budget sesuai kita. Dengan tekat dan semangat, akhirnya jadinya 3D seperti yang terlihat di atas. Seluruh bagian luar kue dilapisi coklat asli. Dan rasanya pun nyummiii banget. Apalagi yang warna biru sebagai alasnya, coklat yang enak banget. Sampai-sampai Awan doyan banget makan alas kue yang berwarna biru ini. Kenapa Nikon D300s?? Karna kata Awan,, Drian lagi pengen kamera ini. Yaa nih gue kasih, tapi dalam bentuk kue aja yah Dri.. hehhehhee. Daaaannnnn,,,,, Pasti lo semua heran ngeliat lilinnya. Udah kecil-kecil, mletot-mletot, dan kenapa lima?? Bukan 22 sama kayak ulang taunnya?? jadi gini loh, itu lilin dapet dari kue nya langsung. Gue sampe Bogor jam 10 malem. Udah ga sempet deh beli lilin segala. Beli terompet aja maksa. Akhirnya tu terompet kan ga bunyi. Pajangan doank deh. Hahahaha kocak banget. Akhirnya Gue punya ide, kalo ada yang nanya kenapa lilinnya lima, gue jawab aja, sesuai sama tanggal lahirnya kan 5 Maret. Hehehehhee. Walau terdengar agak maksa, tapi setidaknya alesan gue pas kan??
Ini pas baru sampe rumah Drian. Sebelum kita semua manggil Drian keluar. Halaman luar rumah orang yang kita pake buat poto-poto. Hehehhe. Ini ngomong aja bisik-bisik, karena pas kita nyampe tengah malem gini, Drian nya masih melek dong! Dia belom molor, yaudah jadi aja kita bisik-bisik, takut ketauan sama orangnya.
Inilah saat-saat yang mendebarkan. pas orangnya keluar, sumpah demi apapun gue nervous, keringet dingin, padahal cuacanya dingiiiinnn banget, udah gitu kan banyak angin semilir-semilir gitu. Deg-deg an parah banget deh pokoknya. Masalahnya ini kan pertama kali gue melakukan semua hal atas nama cinta. Nyatronin rumah gebetan (istilahnya si gitu) tepat jam 12 malem teng!!! Wooooww,, apa yang lo rasain jika jadi gue coba??? Eehh tau ga sihh, itu kan lilinnya yang nyala cuma tiga dari lima lilin. Hahhaaa,, gara-gara angin niupnya kekencengan. Jadi deh, bukan ditiup Drian, tapi malah ditiup angin. Liat kan?? Ekspresi canggung gue diatas. Maklumlah, setelah beberapa lama ga ketemu langsung. Ketemu-temu lagi dalam moment kayak begini. terakhir ketemu Drian pas wisuda 21 Juli 2010, dan baru ketemu lagi 5 Maret 2011. Fantastis bukan??
Nah ini tiup lilin kedua. Karena tadi pas di depan gerbang kan lilinnya ga nyala semua. Nah yang disini ini semua lilin menyala. Juga tak ada gangguan dari si angin. Maksa banget yah muka gue. Padahal itu muka nahan grogi. Gimana engga. Yang di depan gue itulah Drian. Orang yang sampai saat gue nulis tulisan ini masih betah ada di hati gue. Sayang banget sama Drian ya Allah.
Suka banget liat ekspresi Drian disini. Ketawanya natural banget. Lepas pas pas passss! Jarang gue bisa liat secara langsung ketawanya dia yang beginian. Karena, setiap ada gue, atau kita lagi ketemu secara ga sengaja dulu sebelum wisuda setelah gue menyatakan cinta, gue gak pernah liat dia ketawa selepas ini. Tampangnya selalu dingin dan jutek buat gue. Sedih deh. Tapi pas liat foto diatas, gue seneng banget liat dia ketawa selepas itu. Eeeehhh tunggu deh, ini perasaan gue aja atauuu emang,, lengan Drian kok keker banget yah sekarang?? kayaknya dulu ga segede itu deh (coba liat gambar diatas lagi) keker abiiiisss,, pekerjaan sebagai seorang fotografer berat banget yah,, sampe tangannya kayak biasa megang alat berat loh. Padahal kamera ga ber ton ton kan beratnya??? Hihihiiii (becanda)
Kalo yang ini dia begaya motret gitu sama kue yang gue kasih. Tapi kenapa itu ada gue nya yah?? Jadi ga kece kan?? Udah gitu gue nya sadar kamera pula. Hahahahaa,, ketauan banget banci kamera nya.
Inilah saat seserahan terjadi. Hahhahaa, gue menyerahkan kado-kado yang udah dengan penuh pengorbanan bawa nya dari Jakarta ke Bogor. Sampe-sampe ada sedikit kertas kadonya yang sobek. Tapi untung aja bisa diakalin pake selotip. Hehehehe. Sii Drian mah tetep lucu weh yeuh mau bergaya apa juga. Liat deh ekspresinya, lucu kan?? Gue suka semua yang ada di diri dia. Hahahaha
Buka kadonya,, buka kadonya,, buka kadonya sekarang juga. Hahahhaaa. Akhirnya kado dibuka juga. Ada dua sih kado yang gue kasihin, cuma yang boleh gue buka yang gede aja. Kado yang kecil dikotakin jangan dibuka. Gue gak mau. Karena apa?? Isinya itu Magic mug. Yang kalo diisi aer panas desainnya keluar deh. Nah desainnya itu yang agak-agak gimana gitu. Malu aja kalo sampe keliatan anak-anak. Ada puisi nya juga, hahahaa,, gombal deh. Ga gombal juga sih, itu semua kata-kata yang keluar dari hati. Nah pasti Awan ngeledekin kalo sampe nemu atau baca memo nya itu. Makanya yang gue ijinin dibuka kado kanvas nya aja.
Ekspresi Drian saat itu seneng banget. Sepenglihatan gue yah. Dia ngerasa takjub liat kado kanvas dari gue itu. Katanya kreatif, unik dan menarik. Ya iyalah, itu kan buatnya butuh perjuangan dan pengorbanan panjang. Banyak suka duka nya ngumpulin 22 desain ucapan ulang tahun sebelum akhirnya di cetak repro ke kanvas. Alhamdulillah, ngeliat ekspresi bahagia Drian saat itu udah cukup ngebayar semua suka duka yang gue alamin saat persiapan semua kejutan.
Betapa lucunya kan Drian. Hahahaa, setelah sekian lama menantikan moment-moment seperti ini, akhirnya baru kesampean juga lima Maret 2011. Gue ngerasa seneng banget. Udah berhasil melakukan hal yang selama ini gak pernah terlintas di kepala gue. Liat kan?? Ekspresi Drian juga sepertinya menikmati satu malam itu. Dia ga jutek-jutekan loh ke gue. Yaa walopun masih agak dingin dan canggung sii. Maklum lah, namanya juga abis dikasih surprise, hehehe.
Lihatlah,, betapa pongonya muka gue di atas. Itu semua ekspresi kecanggungan gue di depan Drian. Haduuuhhh,, deg-degan bercampur seneng pengen lompat-lompat jadi satu. Liat kan foto terakhir diatas, gue gemeteran banget pas nyuapin kue ke mulut Drian. Noh muka gue enggak seenggak engganya banget kan!! ekspresi takjub setengah gak percaya, ekspresi takut-takut najis,,hahhahhaaa... Ckckck,, tapi yaudahlah,, setidaknya gue pernah nyuapin dia. Walau ini akan menjadi pertama dan terakhir kali gue nyuapin dia.
Dan inilah kru yang telah membantu gue dalam acara kejutan ulang tahun Drian ke 22! Yang paling atas namanya Awan, tepat dibawahnya ada Devi yang notabene pacarnya Awan, trus sebelah kiri Devi ada Aul, sebelah kanan Devi ada Evi dan sebelah kanan Evi ada gue sendiri. Makasih banyak ya semuanya, udah mau gue gangguin waktunya buat gerebeg rumah si Drian tengah malem. Tenang, ini yang pertama sekaligus terakhir kok. Heheheheheee... Gue gak akan pernah lupa sama jasa kalian ini. Dan akan selalu terkenang di hati.
Selanjutnya, gue mau masukin juga foto-foto ulang tahun Drian malam harinya. Sekitar jam delapan malem, dia ngadain tiup lilin ala dia. Ada temen-temen kuliahnya juga, yang otomatis ga gue kenal. Karena gue gak pernah sekelas sama mereka jaman kuliah dulu. Jadilah gue berasa orang asing disana. Gue pengen balik ke Jakarta, cuma Mamahnya ngelarang dan minta gue kesana sebentar aja. Ya akhirnya gue menghargai ajakan Mamahnya tersebut. Gue dateng, walaupun gue juga tau, akan ada Reina disana. Di foto-foto yang akan gue masukin disini pun tak pernah luput dari Reina. Yasudahlah,,,
Ini pas nyanyi jingle selamat ulang tahun, tuh liat deh gue, teprak teprok ga niat. Hahahahhaaa. Rame kan?? Ada Papahnya, Mamahnya, Teh Indah, Trus ade perempuannya yang paling kecil, Dini kalo ga salah namanya. Dan beserta anak Komunikasi 44 Institut Pertanian Bogor lainnya.
Tiup lilin ala Drian. Katanya siih gitu. Semangat banget deh Dri niupnya. Hehehehee
Potong kuenya,, potong kuenyaa,, potong kuenya sekarang jugaaaa... (nyanyiii)
Suapan pertama buat sii Mamah. Kalo tengah malem suapan pertamanya buat gue, sekarang buat sii Mamah. Semoga aja terus gue dan sii mamah yang dapet suapan pertama di setiap kali dia Ulang Tahun. Amiiinn ya Allah... (uupss RALAT: bukan suapan pertama yang dikasih Drian ke gue, tapi kue pertama, dan yang nyuapin kue itu gue ke dia, bukan dia ke gue. Gue gak mau terjadi salah paham disini)
Nah suapan kedua nya buat sii Papah. Om Dindin,, hehhehee. Anak manis yah sii Drian ini.. Makanya gue cinta banget sama dia. Hahaaa
Yak,, inilah sesi pemotretan setelah acara tiup lilin dan nyanyii bareng serta suap-suapan kue beresss..
Muke gue oke banget deh,, apa karena kamera nya yang oke yah?? gak kalah cantik kan sama Reina?? hahahhahaa (becanda deng)
Bisa dilihat kan??? Betapa akrabnya Drian dengan Reina!! Dan lihat lah gue??? Sendiri menyepiii terasingkan,, hahhahahaaa... Agak iri sii,, tapi yasudahlah,, mau gimana?? Toh memang Reina yang lebih dulu kenal Drian dibanding gue.
Sii Aul curaaannngg!!! Yang laen pada pasang muka serius, nah dia malah nyengir kudaaa pamerin gigi. Gue juga sih curang,, mesem-mesem dikit. Hahahahhaaa
Foto terakhiir ini pasti kerjaan yang ulang taun deh. Jelek banget kan muka mukanya! Cuma Reina yang sadar kamera. Hahahahhaaaa. Dengan berakhirnya foto di atas, maka berkahir pula cerita mengenai kejutan Drian sebulan yang lalu. Ga nyangka ya, udah sebulan berlalu, gue masih aja ngerasa baru kemaren gue ke Bogor datengin rumahnya. Waktu cepet banget berputar. Ngeliat foto-foto diatas menghibur gue banget. Karena sekarang hubungan gue sama Drian meregang. Lagi dan lagi, dan untuk yang kesekian kali!!
Langganan:
Postingan (Atom)
Menanti
Aku tidak ingin menghabiskan waktu bersama dengan orang yang tidak aku cintai sama sekali..
Dan aku telah memilih,,
Untuk menunggu orang yang aku cintai..













































